Manusia, Jalan Raya, dan Kerejekiannya
Ilustrasi
Bismillah,
Selepas waktu shalat Isya, terbersit hal kecil yang selama ini nyaris tak terlihat dan terasa (karena saking kecil dan seolah remeh), hal kecil yang nampaknya tak sekecil itu. Agak berat untuk menuliskan, jujur ini berat, tapi hari ini akan kubagikan sudut pandangku yang bisa jadi sama atau bahkan bertolak belakang dengan sedulur sekalian.
Manusia, Jalan raya, dan kerejekian. Apalagi sih ini? Penting banget gitu?
Ada suatu waktu dimana saya bekerja kantoran, lalu menikmati indahnya berwirausaha (meskipun tak selalu indah). Dalam kesehariannya, mau itu kantoran atau non-kantoran nyaris setiap hari berhubungan dengan manusia, jalan raya dan kerejekian.
Bagaimana tidak, terutama saya yang hidup di perkotaan / Jabodetabek, nyaris tak mungkin untuk tidak berinteraksi dengan manusia dan mobilitas tinggi kesana kemari untuk menjemput rejeki yang sudah Allah SWT tetapkan dihari itu.
Dalam Tulisan ini, saya akan soroti hal tentang kerejekian dan filosofinya menurut pandangan pribadi. Dimulai di medio 2014, saya pernah terlibat dalam sebuah perbincangan santai dimana ada kalimat yang terlontar dari beberapa kawan “Kalau bisa, beli dagangan orang itu nggak usah nawar” dan “ilmu itu jangan ditahan sendiri, dibagi ke orang lain, jadi nanti lu dapat ilmu baru dari orang lain juga”.
Kalimat pertama “Kalau bisa, beli dagangan orang itu nggak usah nawar” ini sekilas memang biasa saja, tapi saya memaknainya cukup dalam. Selama saya suka barangnya, ada duitnya, dan harga yang dipasang masuk akal ya akan saya terapkan pendapat tersebut. Sambil bisa ditambah niat membantu/melancarkan usaha orang lain. Berharap urusan kita juga dilancarkan plus dapat pahala boleh dong? Sah sah saja.
Kalimat kedua “Ilmu itu jangan ditahan sendiri, dibagi ke orang lain, jadi nanti lu dapat ilmu baru dari orang lain juga”. Ketika mendengar kalimat ini, imajinasi saya melayang ke talang air yang mengalirkan air dari atas ke bawah. Dan kalau salah satu tikungan atau lubang talang ada yang terhambat atau bahkan tersumbat, niscaya air tak akan bisa lewat dengan sempurnya. Terutama ilmu, tidak aka nada istilah habis dan hilang jika dibagi. Lagipula, kok kesimpulannya bisa cocok dengan kalimat pertama ya, ilmu yang kita bagi bisa jadi bermanfaat untuk orang lai, bisa jadi jalan mereka untuk menjemput rejeki mereka dengan menerapkan ilmu yang kita bagikan sebelumnya.
Kini pikiranku mengerucut lagi, urusan kerejekian. Kebetulan sekali baru saja saya sampai rumah setelah agak bermacet-macetan di jalan raya menggunakan roda dua. Situasi selepas jam kerja di jalan raya memang begitu padat, para karyawan yang sudah lelah seharian bekerja tentu ingin segera melepas penatnya di rumahnya yang nyaman. Di jalan sendiri dengan kondisi yang berpotensi menambah “stress” tentu merupakan tantangan bagi tiap insan yang lewat. Pengendara ngebut, saling serobot , dan main potong jalur bukanlah hal yang sulit dilihat.
Belum lagi ada pengendara yang sambil bawa kendaraan tapi mengakses ponselnya. Entah saking pentingnya atau ingin mengoptimalkan waktu alias ber-multi tasking ria di jalan raya. Ini jelas membahayakan diri sendiri dan orang lain, terlebih jalan raya adalah public facility, bukan milikmu seorang duhai Romeo!
Alih-alih waktu beliau menjadi optimal, ternyata ada pihak yang dirugikan meski terasa kecil namun efek berantainya luar biasa. Saya teringat ada pengendara roda dua yang mengakses aplikasi dari lampu merah sampai lampu hijau, jalan akhirnya pelan2 dan entah disadari atau tidak, aksinya tersebut menghambat laju kendaraan lain dibelakangnya. Terdengar remeh? Ya, saya sempat sepakat. Tapi akhirnya setelah menelah lebih dalam, ada kepentingan orang lain yang ’dikorbankan’. Kita tidak bicara dampaknya fatal atau tidak, karena menurut pemahaman saya bahwa dosa dan pahala sekecil apapun akan kita pertanggung jawabkan dan mendapat ganjarannya masing-masing.
Indonesia memang indah, dengan azas kekeluargaan, adat istiadat yang mengedepankan adab serta sikap alami manusianya yang ramah ternyata memberi dampak yang kurang baik saya rasa, sifat permisif.
Saya yakin, jika saja ada kesadaran untuk mau berfikir lebih ditiap tiap kita, sehingga secara kuantitas dan kualitas tumbuh kesadaran secara kolektif maka kehidupan dan berkehidupan bangsa ini akan jauh melesat keatas.
Entah dimana tulisan ini akan bermuara, tapi yang jelas, saya lebih memilih untuk melancarkan urusan orang lain daripada mencari-cari alasan agar orang lain yang melancarkan urusan saya. Bahkan sesederhana putar balik dijalan, saya lebih memilih untuk tidak memotong tapi perlahan mengambil jalur arah putar baliknya, meskipun berdampak jarak yang ditempuh ke tujuan menjadi lebih jauh, sesederhana berfikir “kalau saya parkir disini menghalangi orang lewat atau tidak ya?” dan hal hal kecil lainnya yang saya khawatir itu akan menjadi batu sandungan saya diurusan kerejekian.
Sebagaimana Allah SWT berfirman melalui QS Ar Rahman – Ayat 60
هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ
Hal jazâ’ul-iḫsâni illal-iḫsân
Adakah balasan kebaikan selain kebaikan (pula)?
Kalau kita cicil hal-hal baik, maka suatu saat nanti kita akan menuai kebaikan pula. Kalau kita lancarkan urusan orang lain, kerejekian orang lain, maka yakinlah Allah SWT akan membanjiri diri kita dengan kebaikan-kebaikan salah satunya lancarnya urusan kita dan mudahnya mendapatkan hajat kita. Sepakat atau tidak teman? Selamat beristirahat.
Follow Instagram Penulis Mas Mimien