20/04/2026

Read me everyday

nandigital network

Seberapa Horor Sih Naik Gunung Itu? Sebuah Opini

Ilustrasi Pendaki Gunung

Bismillah,

Dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap stakeholder, siapapun baik pecinta alam, pelaku usaha, tokoh dan lain sebagainya (yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu) ijinkan saya menulis dalam rangka memberi sudut pandang pribadi sebagai perimbangan dari berita atau cerita yang telah beredar terkhusus mengenai hobi hiking atau ‘naik gunung’ yang terkesan negatif dengan cerita-cerita mistis atau seramnya.

Seram itu relatif, bagi yang tidak pernah giat alam berada ditengah hutan tanpa penerangan dan dibumbui suara binatang malam akan menjadi sangat mengerikan, terlebih jika sebelumnya sudah cukup sering dicekoki suguhan film bertema horor. Akan menjadi lain jika mampu menikmati kegelapan sebagai bentuk utuh dari arti luas kedamaian, dan orkestrasi ‘nyanyian’ binatang-binatang malam yang begitu harmonis disertai secangkir kopi hangat dan kacang kulit mungkin? Jelas itu akan menjadi sebuah ‘anchor’ yang setiap saat bisa dipanggil begitu merasa penat dalam keseharian.

Urusan horor kita kesampingkan dulu, saya tertarik untuk mengulas sedikit tentang ‘anchor’. Nyaris disetiap trip entah itu city traveling atau hiking saya melakukan ‘anchoring’. Sebagai contoh, saat pertama kali saya naik gunung dan camping, saya benar-benar paksa untuk menikmati rasa dingin tersebut sambil melihat indahnya gugusan bintang dimalam hari pada saat cuaca cerah, Masyaa Allah. Dan setiap stimulasi rasa dingin itu tiba (entah dari pendingin ruangan atau memang cuaca alami) mudah untuk saya menikmati rasa dingin tersebut karena teringat kenangan indah saat camping bersama rekan rekan kampus.

Cerita lain, bau kopi dari sebuah kedai kopi kecil ini saya temukan di Bern Bahnhoff (stasiun kereta) di kota Bern, Swiss. Seketika itu saya ‘anchoring’ untuk merekam momen tersebut, momen yang menurut saya menyenangkan, momen hari dimana saya akhirnya menginjakkan kaki di benua Eropa untuk pertama kalinya.

Bahkan bau sisa bakar/ asap kayu mampu membawa saya kembali kepada kenangan belasan tahun lalu saat berkemah di Lembah Surya Kencana (Taman Nasional Gede Pangrango). Sebagai catatan: pendaki lain yang menyalakan api unggun ya teman.

Dari sinilah kita sebaiknya memulainya, mindset. Mindset bahwa naik gunung itu bukanlah hal yang menakutkan, menyeramkan, penuh teror horor dan lain sebagainya. Naik gunung itu menjadi sangat menakutkan jika teman-teman tidak mempelajarinya sebelumnya. Mempelajari jalur, rute, perlengkapan, kesiapan fisik, termasuk berskenario jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan (sakit, cidera, tersesat dan lain sebagainya), singkatnya Do and Don’t nya. Kuatkan pikiran kita sebelum naik gunung, cerita-cerita horor tidak akan membuatmu terlihat keren atau hebat.

Tulisan ini bisa jadi menyinggung para uploader video (saya tidak menyebutnya content creator) yang isinya cuplikan perjalanan naik gunung tapi di ‘tempel’ dengan backsound bertema seram dan bernarasi horror hanya untuk mendapatkan view dan mungkin ‘merasa keren’ dengan adanya video tersebut. Padahal itu hanya sound effect saja atau bahkan dari audio sumber video yang berbeda. Awalnya saya tidak terganggu, ah ini sih kerjaan iseng segelintir uploader aja, tapi kelamaan ini cukup annoying buat saya.

Teringat puluhan tahun lalu, saya diminta maju ke orang tua salah seorang teman yang ingin mencoba mendaki bersama, untuk mendapatkan ijin pergi. Tak mungkin dong jika saya bercerita ini itu yang vibesnya negatif dari yang katanya si ini, katanya si itu, katanya entah siapa.

Apakah saya tak pernah menemui kejadian mistis atau horor? Bisa iya bisa tidak, pernah sesekali saya ceritakan hal tersebut ke teman-teman sepergaulan dan mereka bilang itu seram. Tapi bagi saya tidak, biasa saja. Segala sesuatu yang ada dibumi dan dilangit serta diantaranya adalah milik Allah SWT, satu satunya Dzat yang patut disembah dan berkuasa mutlak.

Apakah saya tak percaya hal gaib? Jelas saya percaya, saya seorang muslim, hal gaib juga diceritakan. Namun saya tidak ingin ‘terperangkap’ dalam koridor tersebut. Cukup bagi saya melihat beberapa teman yang sedikit-sedikit menanggapinya dari sudut supranatural, mistis, dan itu dalam pandangan saya menjadi kurang rasional dan sehat.

Pada saat syahadat terucap, maka totalitas menjalankannya menjadi satu satunya panduan (kita bicara seberapa totalitas ditulisan lain ya). Minta pertolongan, minta rejeki, minta Kesehatan, minta kesembuhan, minta apa saja ya hanya pada-NYA. ALLAH SWT sudah membuka banyak sekali pengetahuan tentang ilmu kesehatan, ilmu perbintangan, matematika, fisika dan lain sebagainya. Berdoa, berfikir logis dan imbangi dengan rasa serta empati agar bisa lebih bijaksana dalam melihat menyikapi dan menghadapi segala sesuatunya.

Kembali ke horor, saya menolak keras hobi saya dan banyak teman-teman lain ini digiring secara langsung atau tidak langsung menjadi hobi yang menakutkan. Pernah melihat indahnya matahari dan bulan pada saat yang bersamaan? Mendakilah dan pilih waktu cerah, jika beruntung sekitar jam 4:30 sore adalah waktu yang tepat sambil duduk-duduk manis melihat indahnya pemandangan dari puncak gunung.

Pernah mendengarkan ‘nyanyian’ jangkrik dan teman temannya (yang saya tidak tahu namanya) dimalam hari yang terdengar begitu ramai? Bukalah tenda di hutan tropis dan ‘camping’ sampai pagi, temani dirimu dengan secangkir kopi atau teh dan cemilan, jika itu kurang kalian bisa tambahkan suara musik favorite kalian tipis tipis aja melalui earphone (jangan berisikin hutan ya, kita ini tamu bukan tuan rumah), biarkan hewan-hewan tersebut melakukan aktifitas alaminya tanpa adanya intervensi yang berarti.

Bau rerumputan, tanah yang baru saja diguyur air hujan, bahkan kabut tebalpun akan menjadi sangat indah jika mindset disetel dengan baik dan benar. Jika harus mengurai, tulisan ini pasti akan terus berlanjut dan bisa jadi buku berjilid-jilid bahkan terus terupdate sampai akhir, saya mampu bicara dan cerita banyak tentang hal ini.

Namun saya putuskan untuk mengakhiri tulisan ini dengan berpesan kepada generasi muda, kenali dulu dirimu, kenali dengan baik hobimu, perbanyak referensi (kalau perlu ambil pelatihan singkatnya), barulah jalani dengan penuh kesenangan.

Hal gaib itu ada, tapi jangan jadikan itu sebagai komponen pertimbangan utama dalam setiap trip/ekspedisi/perjalananmu.

Kalau cuma ngomongin setan, bukankan setiap gerak gerik kita juga dikawal setan yang ingin selalu menyesatkan? نَعُوْذُبِاللهِ مِنْ ذَالِكَ  (Na’u dzubillahi min dzalika/ kami berlindung kepada Allah dari perkara tersebut).

“Percayalah, naik gunung itu asik dan candu”. Ciao!

Follow Instagram Penulis Mas Mimien

nandigital network | since 2008 | Newsphere by AF themes.