28/10/2026

Read me everyday

nandigital network

Ciliwung Depok Bisa Jadi Destinasi Arung Jeram? Sampah Jadi Tantangan, Potensinya Justru Menjanjikan

narapolitik.com – Sungai Ciliwung selama ini lebih sering dikenal sebagai salah satu sungai yang menghadapi persoalan banjir dan sampah. Namun, di balik persoalan tersebut, muncul peluang lain yang cukup menarik: menjadikan sebagian aliran Ciliwung di Kota Depok sebagai kawasan wisata air dan arung jeram berbasis lingkungan.

Potensi itu bukan sekadar wacana. Pada Senin, 28 September 2026, Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono menyusuri Sungai Ciliwung dan menyebut debit aliran Ciliwung cukup deras sehingga memungkinkan untuk aktivitas arung jeram. Ia juga melihat peluang pemanfaatan aliran sungai untuk pengembangan energi mikrohidro.

Namun, Diaz menekankan bahwa pengembangan tersebut harus diawali dengan pembenahan ekosistem. Ia menyebut perlunya trash boom untuk menangkap sampah serta wetlands untuk membantu menyerap polutan sebelum pengembangan lebih jauh dilakukan.

Arung jeram sebenarnya bukan hal baru di Depok

Aktivitas arung jeram di Ciliwung Depok telah dilakukan oleh komunitas dan atlet. Bahkan, Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Kota Depok saat ini memiliki kepengurusan periode 2026–2030 dan tengah mempersiapkan atlet menghadapi kompetisi, termasuk Porprov Jawa Barat 2026.

Pada Festival Ciliwung 2025, misalnya, lomba arung jeram digelar di Sungai Ciliwung Depok dengan peserta dari berbagai komunitas dan instansi. Tercatat 18 tim putra dan 10 tim putri kategori R4 ikut ambil bagian.

Artinya, Depok sebenarnya sudah memiliki tiga modal penting: sungai, komunitas, dan sumber daya manusia yang memahami olahraga arung jeram.

Masalah terbesar: bukan arus, tetapi sampah

Persoalan terbesar pengembangan wisata air Ciliwung justru bukan bagaimana membuat orang datang, melainkan bagaimana membuat sungainya layak dan aman didatangi.

Masalah sampah masih terlihat di sejumlah bagian Ciliwung. Pada aksi bersih sungai di Depok, komunitas dan pemerintah juga masih rutin melakukan pengangkutan sampah dari aliran sungai. Pemerintah Kota Depok sebelumnya bahkan memasang atau merencanakan pemasangan jaring apung untuk menangkap sampah agar tidak masuk ke sodetan Ciliwung.

Persoalan tersebut penting karena wisata arung jeram tidak cukup hanya mengandalkan pemandangan dan derasnya air.

Wisatawan akan mempertanyakan tiga hal:

Apakah airnya bersih?
Apakah jalurnya aman?
Apakah pengalaman yang didapat sepadan dengan biaya yang dikeluarkan?

Kalau jawabannya belum meyakinkan, sulit mengubah Ciliwung menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan.

Justru sampah bisa menjadi bagian dari solusi

Menariknya, persoalan sampah dapat diubah menjadi bagian dari konsep wisata.

Modelnya bukan sekadar “rafting di Ciliwung”, tetapi “rafting sambil menyelamatkan Ciliwung”.

Konsep seperti ini sudah memiliki contoh. Di Jakarta, program Ciliwung River Adventure menggabungkan kegiatan susur sungai dengan edukasi lingkungan. Peserta bahkan diajak mengambil sampah yang mengambang menggunakan jaring sebelum sampah dibawa kembali ke dermaga untuk dipilah.

Model serupa juga pernah dilakukan dalam kegiatan arung edukasi Ciliwung yang menggabungkan aktivitas sungai dengan sensus sampah.

Bagi Depok, konsep tersebut dapat dikembangkan menjadi paket wisata:

  • River rafting
  • River tubing
  • Susur sungai
  • River clean-up
  • Edukasi ekosistem Ciliwung
  • Wisata kuliner kampung sungai
  • Camping atau outbound
  • Program edukasi sekolah
  • Paket corporate outing
  • Festival Ciliwung

Dengan demikian, wisatawan tidak hanya membeli tiket bermain air, tetapi juga membeli sebuah pengalaman.

Seberapa besar peluang suksesnya?

Secara bisnis, potensi tersebut cukup menarik karena pasar awalnya sudah berada di sekitar Depok dan Jabodetabek.

Depok berada di kawasan metropolitan dengan akses transportasi yang relatif dekat dengan Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Artinya, konsep wisata sungai tidak harus mengandalkan wisatawan yang datang dari luar Pulau Jawa.

Target awalnya justru bisa berupa wisatawan lokal dan komunitas yang mencari aktivitas akhir pekan.

Kuncinya adalah membuat produk yang berbeda.

Misalnya:

Paket Ciliwung Adventure – 2 jam

Rafting → edukasi sungai → bersih-bersih → makan di kampung sekitar sungai.

Atau:

Ciliwung Family River Experience

Susur sungai ringan → edukasi sampah → permainan anak → kuliner lokal.

Sementara untuk perusahaan dapat dibuat paket Corporate River Conservation, yakni kegiatan team building yang sekaligus melakukan aksi lingkungan.

Konsep seperti ini berpotensi menciptakan ekonomi baru bagi masyarakat sekitar: pemandu, operator perahu, instruktur keselamatan, warung makan, transportasi lokal, dokumentasi, hingga produk UMKM.

Tetapi jangan buru-buru menjual “wisata arung jeram”

Ada satu hal yang harus menjadi catatan penting.

Wisata air tidak boleh dimulai dari mengejar jumlah wisatawan. Wisata air harus dimulai dari memastikan kondisi sungainya.

KLH/BPLH sendiri pada 28 September 2026 menyebut Ciliwung masih menghadapi persoalan sampah dan bangunan di sempadan. Pemerintah juga melihat perlunya pengendalian erosi, penanganan ikan invasif, trash boom dan wetlands sebelum pemanfaatan lebih lanjut dikembangkan.

Karena itu, jika Depok serius menjadikan Ciliwung sebagai destinasi wisata air, tahapannya bisa dibuat bertingkat.

Pertama: pemetaan kualitas air dan sampah.

Kedua: menentukan segmen sungai yang aman untuk wisata.

Ketiga: membersihkan dan memasang sistem penahan sampah dari hulu.

Keempat: membangun standar keselamatan dan SOP operator.

Kelima: membuat paket wisata skala kecil.

Keenam: mengukur respons wisatawan.

Baru setelah itu kapasitas wisata dapat ditingkatkan.

Ciliwung bisa menjadi masalah, tetapi juga bisa menjadi aset

Selama ini sungai sering dipandang sebagai persoalan kota. Sampah, banjir, erosi dan bantaran yang tidak tertata menjadi berita yang berulang.

Tetapi perspektifnya bisa dibalik.

Sungai yang dirawat dapat menjadi aset ekonomi.

Aktivitas arung jeram bahkan sudah membuktikan bahwa Ciliwung di Depok memiliki karakter aliran yang dapat dimanfaatkan untuk olahraga. Festival Ciliwung 2025 dan aktivitas FAJI menjadi bukti bahwa ekosistem olahraga sungai sebenarnya sudah terbentuk.

Tantangannya sekarang adalah bagaimana mengubah aktivitas komunitas tersebut menjadi ekosistem wisata yang aman, bersih, profesional dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Kalau itu berhasil dilakukan, Ciliwung Depok bukan hanya menjadi tempat orang datang untuk bermain air.

Ciliwung bisa menjadi alasan orang datang ke Depok.

nandigital network | since 2008 | Newsphere by AF themes.